Showing posts with label Telaah. Show all posts
Showing posts with label Telaah. Show all posts

ALIRAN SYIAH SESAT DI BALIK KEKEJAMAN YANG MENIMPA MUSLIMIN AHLUS SUNNAH DI SURIAH

Kekejaman Penguasa Suriah terhadap kaum Muslimin Ahli Sunnah, -disengaja atau tidak- jarang diekspos oleh media massa. Padahal fakta menyebutkkan, telah terjadi kebengisan yang tak terperikan yang dipraktekkan secara terang-terangan oleh pasukan pemerintah dalam menghabisi rakyat sendiri; tua, muda dan anak-anak. Korban pun mencapai angka yang sangat besar, lebih dari 5000 jiwa tewas. Masjid-masjid Muslimin hancur berantakan oleh senjata berat pasukan pemerintah. Mushaf al-Qur`an pun tak luput dari penodaan tangan-tangan mereka, termasuk kehormatan wanita Muslimah. 

Penindasan dan kebiadaban yang disebut Syaikh Musa Alu Nashr (Majalah As-Sunnah 01 Thn XVI) melebihi kekejaman dan kebrutalan bangsa Yahudi terhadap kaum Muslimin Palestina ini jelas membekaskan tanda tanya dan pertanyaan, mengapa mereka berani mempertontonkan aksi sangat mengerikan dan biadab terhadap kaum Muslimin di sana, berbeda halnya saat Libia, Mesir dan Tunisia bergejolak. Tanda tanya itu akan terjawab, sekaligus menjawab diamnya Negara Barat atas aksi brutal di sana, dengan mengetahui ideologi yang mendominasi kalangan pemerintah dan pasukannya, yaitu paham Syi'ah Nushairiyah. 

MUNCUL PADA ABAD KE-3
Nushairiyah merupakan salah satu dari aliran kebatinan, muncul pada abad ke-3 Hijriyah, dan merupakan sempalan dari golongan Syiah Imam Dua belas. Kelompok ini dinisbatkan kepada pimpinan mereka yang bernama Muhammad bin Nushair an-Numairi, Abu Syuaib, berasal dari Persia. Sebelumnya, ia berpaham Syi’ah Imam Dua belas. 

Dia telah mengklaim sebagai bâb , pintu penghubung manusia menuju imam ke dua belas (yang fiktif) yang mereka anggap sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu. Akan tetapi, para tokoh Syi’ah lainnya tidak mengakui klaimnya itu. Ia pun lalu melepaskan diri dari Syi’ah dan membuat kelompok sendiri Nushairiyah, serta menjadi pimpinan sampai mati pada tahun 270 H.

Firqah (aliran) ini layaknya musuh-musuh Islam lainnya, selalu mengintai barisan kaum Muslimin dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengganggu kaum Muslimin dengan berbagai cara tanpa rasa belas kasihan. Bahkan mereka berkeyakinan, apa yang mereka lakukan akan mendapatkan pahala. Semakin besar gangguan yang mereka munculkan, akan semakin besar pula pahala yang akan mereka dapatkan. Fakta yang terjadi di Suriah belakangan ini menjadi bukti nyata terbaru. Mereka membantai banyak orang yang tidak bersalah, baik pria, wanita maupun anak-anak. Jauh sebelum itu, sejarah telah mencatat mereka juga telah membantu pasukan Tartar dan kaum Salibis untuk menyerang kaum Muslimin dengan cara yang sangat keji. Fakta ini sekaligus menjadi jawaban atas penindasan dan kebrutalan mereka terhadap kaum Muslimin. 

Para Ulama Ahlus Sunnah telah mencatat kekejaman Nushairiyah Batiniyah terhadap kaum Muslimin dalam masa yang berbeda-beda. Bagaimana mereka menjelma binatang liar yang ganas yang tidak punya rasa iba dan belas kasih sama sekali terhadap kaum Muslimin, tua, muda, perempuan maupun anak-anak. 

NAMA ALIRAN YANG PALING MEREKA SUKAI 
Kelompok ini dikenal dengan beberapa nama. Yang paling populer adalah Nushairiyah, penisbatan kepada penggagas pertama aliran ini. Akan tetapi, mereka kurang menyukai nama ini karena ingin menghilangkan kesan eksklusif dan menghindari permusuhan dari golongan lainnya. 

Mereka lebih menyukai nama ‘Alawiyyun dan berharap dikenal dengan nama ini, karena penisbatan kepada Ali tentu lebih baik dari penisbatan kepada Ibnu Nushair. Sebagaimana slogan yang diusung oleh komunitas Syiah lainnya, dengan nama ini mereka ingin disebut sebagai para penganut ‘Ali atau mencintai keluarga Nabi guna menarik simpati orang dan menutupi kerusakan yang ada pada aliran tersebut sekaligus. 

SEBAGIAN AQIDAH RAHASIA NUSHAIRIYAH
Para pengikut Nusairiyyah ini beranggapan, agama atau kelompok mereka merupakan suatu rahasia besar yang tidak boleh diketahui atau disebarkan selain dari kalangan mereka sendiri. Mereka menetapkan peraturan, orang yang berani menyebarkan sedikit saja tentang akidah mereka, maka hukumannya dibunuh dengan cara yang paling sadis. Hukuman ini pernah ditimpakan pada orang bernama Sulaiman al-Adhani, anak dari salah satu pimpinan Nushairiyah di wilayah Adhnah menulis buku menelanjangi Nushairiyah yang berjudul al-Bakûrah as-Sulaimâniyyah, yang kemudian dicetak oleh para misionaris di Beirut yang telah berhasil mengkristenkannya. Setelah berhasil ditangkap, ia pun dibunuh dengan cara dibakar hidup-hidup. 

Di antara yang tertulis dalam kitab tersebut, ialah:
Mereka meyakini ketuhanan Ali. Mereka menyakini Ali adalah imam dalam bentuk lahirnya dan Tuhan dalam batinnya, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Ali belum meninggal dan tidak terbunuh, tidak makan ataupun minum. Bahkan mereka mengatakan, Ali telah menciptakan Muhammad dan Muhammad menciptakan Salman al-Farisi. 

Mereka memiliki kitab suci selain al-Qur‘an yang menjadi pedoman pokok. Al-Qur‘an hanya menjadi pedoman sampingan semata.

Kerahasiaan ini juga menjadi pertanda kesesatan Nushairiyah. Kalau memang keyakinan dan pedoman mereka baik dan bagus, mengapa takut diketahui oleh orang lain?!. 

KEBENCIAN NUSHAIRIYAH KEPADA PARA SAHABAT NABI
Sikap para penganut Nushairiyah terhadap Sahabat Nabi seperti sikap para musuh Islam yang memusuhi Islam dan Muslimin. Satu sikap negatif yang tertanam pada hati para penganut aliran Syiah dengan segala cabangnya, termasuk Nushairiyah. Kebencian mereka terhadap Sahabat sampai pada titik melontarkan pernyataan ada individu dari kalangan Sahabat Nabi yang pada dasarnya belum pernah beriman secara mutlak. Ia hanya menampakkan keislaman dan keimanan karena takut kepada Ali bin Abi Thalib semata. 

Seperti orang Syiah lainnya, kebencian mereka terhadap Sahabat Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu sangat besar sampai enggan menjadikan dua nama itu untuk anak keturunan mereka. Kebencian dan kedengkian ini terlukiskan pada tindakan yang pantas disebut kedunguan, dengan sengaja membunuhi beberapa binatang dan menyiksanya dengan cara-cara yang sadis, karena beranggapan ruh Abu Bakar Radhiyallahu anhu , ‘Umar dan ‘Aisyah berdiam di sana. Secara khusus, Sahabat ‘Umar menjadi sosok yang paling mereka benci tiada lain karena pada masa khilafah ‘Umar kekuatan Persia luluh lantak, dan api Majusi padam dan digantikan dengan menyebarnya hidayah Islam dan cahayanya di sana. 

WANITA MEREKA, WANITA PALING BODOH DAN TERHINA
Para wanita Nushairiyah tidak diperbolehkan mempelajari rahasia-rahasia yang terdapat dalam aliran Nushairiyah. Mereka menganggap, wanita memiliki pikiran, akal dan kehendak yang sangat lemah. Di samping itu, wanita dianggap lebih jahat dan memiliki banyak tipu muslihat. Oleh karena itu, bisa dikatakan kaum wanita mereka tidaklah beragama, dan termasuk wanita-wanita yang sangat bodoh di dunia ini.

Para lelaki saja yang diizinkan untuk mendalami keyakinan Nushairiyah. Bila seorang lelaki telah berusia lebih dari 19 tahun, ia boleh mengikuti pembinaan spiritual ala Nushairiyah melalui beberapa tahap. Banyak ritual aneh dan merendahkan martabat manusia yang harus ia jalani. Dalam kondisi ini, ‘penuntut ilmu’ ini harus patuh dan tunduk kepada gurunya layaknya jenazah di hadapan orang yang memandikannya. Setelah berhasil menuntaskan ‘pendidikan’ ini, maka sang murid telah mengetahui rahasia-rahasia aliran dan berkewajiban mengemban dan menjaga rahasianya. Ia pun berhak menyandang gelar guru dalam aliran ini. 

MEMUJA KHAMR
Mereka memuja khamr atau segala sesuatu yang memabukkan. Mereka memiliki anggapan (sesat) bahwa Allâh k berada jelas di dalam khamr. Orang yang ingin masuk ke aliran ini akan disuruh tokoh Nushairiyah untuk menenggak khamr. 

IBADAH VERSI NUSHAIRIYAH
Cara peribadahan kaum Muslimin jauh berbeda dari ritual-ritual kaum Nushairiyah. Dan ini wajar sekali, karena ajaran-ajaran Islam tidak akan mungkin bersesuaian dengan ajaran Nushairiyah yang bersumber dari watsaniyah (paganisme) Persia, meskipun para penganut Nushairiyah menampakkan diri dengan penampilan Islam, seperti menggunakan nama Islami. Anehnya, walaupun kadang-kadang mereka menggunakan nama-nama Nasrani, akan tetapi mereka melarang menggunakan nama-nama para Sahabat Nabi terbaik seperti Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan ‘Umar Radhiyallahu anhu 

Mereka memaknai shalat, puasa, zakat dan haji dengan pengertian kebatinan yang juga sangat jauh berbeda dari Islam. Makna menegakkan shalat menurut mereka yaitu mengetahui dan menjunjung tinggi Amirul Mukminin. Puasa adalah larangan bercampur dengan istri sepanjang bulan Ramadhan saja. Sementara ibadah haji mereka maknai sebagai praktek kekufuran dan penyembahan kepada berhala. 

Para penganut Nushairiyah tidak melaksanakan shalat Jum’at karena tidak mengakui kewajiban itu. Dalam ibadah shalat versi mereka, orang-orang tidak bersuci terlebih dahulu. Mereka mengerjakan shalat di tempat-tempat tertentu pada waktu tertentu pula, tidak pernah mengerjakannya di masjid. Justru mereka melawan setiap usaha pembangunan masjid. 

Dalam aliran kebatinan ini, tokoh agama Nushairiyah dan orang-orang yang telah mengetahui dan mengarungi makna-makna batin akan terbebas dari aturan syariat, sebagaimana terdapat pada aliran-aliran kebatinan lainnya. 

BUKU PANDUAN RINGKAS AJARAN NUSHAIRIYAH
DR. Abdurrahman Badawi menyampaikan fakta menarik, ditemukannya buku panduan ringkas mengenal ajaran Nushairiyah berjudul Kitâbu Ta’lîm Diyânati an-Nushairiyyah yang masih berbentuk manuskrip kuno di Perpustakaan Paris. Buku panduan ini disajikan dalam bentuk soal berjawab, berisi 101 soal dan jawabannya. Di antaranya:

Soal (S): “Siapakah yang menciptakan kita?”
Jawab (J): ‘Ali bin Abi Thâlib Amirul Mukminin
(S): “Dari mana kita tahu ia adalah Tuhan?”. 
(J): “Dari penjelasannya saat berkhutbah di atas mimbar”. 
(S): “Apakah al-Qur`an itu?”
(J): “Kitab yang memberi kabar gembira perihal junjungan kita (‘Ali) dalam rupa manusia”. 
(S): “Siapakah nujabâ di bumi ini?”. 
(J): Pertama Abu Ayyub….dan yang terakhir ‘Abdullah bin Saba`”. 
(S): “Mengapa orang Mukmin shalat menghadap matahari?”
(J): “Karena matahari adalah sumber seluruh cahaya”. 

Ini sebagian keyakinan Nushairiyah yang termaktub dalam panduan tersebut yang jelas bertentangan dengan aqidah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

KEBENCIAN TERHADAP ISLAM DAN NABINYA
Pernah ada sekelompok orang penganut Nushairiyah melantunkan pernyataan, “Ambillah senjata, ambillah senjata, agama Muhammad biar pergi dan sirna”. 

Harian ats-Tsaurah juga pernah menulis, “Allah, para nabi, kitab-kitab suci semuanya ini adalah muhannathaat yang harus dialihkan ke museum-museum sejarah”. Maka, tidak aneh bila terdengar sebagian prajurit pemerintah Suriah memaksa sebagian Muslimin untuk mengatakan kata-kata kekufuran. 

MASJID DALAM PANDANGAN NUSHAIRIYAH
Kekeliruan dan penyimpangan Nushairiyah bukan perkara yang sepele dan ringan, sudah merupakan kesalahan yang fundamental. Karenanya, sudah banyak pemimpin Islam dan dai-dai Muslim seperti Sultan Shalâhuddîn al-Ayyûbi rahimahullah, Zhâhir Baibrus rahimahullah, Sultan Sâlim al-'Utsmâni rahimahullah, Ibrâhim Bâsya rahimahullah, Sultan 'Abdul Hamid al-'Utsmâni rahimahullah dan lainnya yang berusaha mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang benar. Para pemimpin umat Islam itu pun sudah membangunkan masjid dan mengajak mereka mengerjakan shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya. 

Namun, mereka menolak ajakan baik tersebut. Bila mereka merasa terancam oleh kekuatan Islam, maka mereka berpura-pura memperlihatkan komitmen dengan syiar Islam yang tampak. Sebaliknya, bila kekuatan yang mereka takuti melemah, mereka akan menampakkan batin mereka dan memerangi syiar-syiar Islam tersebut dengan terang-terangan. 

Sebagai contoh, usai mengalahkan kaum Salibis, Sultan Shalâhuddîn al-Ayyûbi membangunkan masjid-masjid bagi Nushairiyah dan memerintahkan mereka untuk memakmurkannya dengan ibadah shalat. Mereka mematuhi perintah ini. Akan tetapi, setelah Shalâhuddîn al-Ayyûbi meninggal, serta merta mereka mengalihkan fungsi masjid menjadi kandang binatang. Na’udzubillâh min dzâlik. 

Demikian juga nasib masjid-masjid yang dibangun oleh Zhâhir Baibrus. Mereka menelantarkannya. Bahkan ketika ada orang akan mengumandangkan adzan, justru mereka berkomentar, “Jangan mengembik, pakanmu akan tiba sebentar lagi”. 

Begitu pula, masjid-masjid dan madrasah yang dibangun atas perintah Sultan ‘Abdul Hamîd al-‘Utsmâni. Mereka menghancurkan madrasah-madrasah itu dan membakar masjid-masjid. 

Keyakinan kebatinan yang tertanam pada hati mereka itulah yang mendorong mereka merusak dan menghancurkan masjid-masjid. Menurut mereka, orang yang sudah mengenal tuhannya dan memahami makna syariat, ia menjadi orang bebas dan tidak terkena beban menjalankan syariat lagi. Dengan demikian, keberadaan masjid dalam pandangan mereka merupakan bukti mereka belum mengenal tuhannya dan ketidaktahuan mereka terhadap perintah tuhannya secara lahir dan batin. 

Demikianlah gambaran ringkas tentang kebusukan keyakinan Nushairiyah dan bahaya mereka terhadap kaum Muslimin. Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan kita orang yang senantiasa mendapatkan petunjuk dan selamat dari tipu daya dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang, serta mendatangkan faraj (jalan keluar dari masalah) segera bagi kaum Muslimin di Suriah. 

(Diringkas dari kitab Firaq Mu’âshirah Tantasibu ilal Islâm wa Bayânu Mauqiful Islâm Minha, oleh Dr. Ghâlib bin ‘Ali ‘Awaji Cet. V, 2005 M, al-Maktabah al ‘Ashriyyah adz-Dzahabiyyah, Jeddah). 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVI/1433/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

KEMANA PERGINYA UANG UMAT ISLAM?

KEMANA PERGINYA UANG UMAT ISLAM?

Oleh
Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA

PENDAHULUAN
Bulan suci ramadhan tak lama lagi akan tiba, dan nuansa religi ibadah dan perayaan hari raya Iedul Fitri mulai dirasakan umat Islam. Semangat ibadah dan kesucian hati yang selalu berkembang pada bulan suci ini pelan namun pasti mulai terasa di tengah-tengah masyarakat. Wajar bila, satu demi satu dari berbagai hal terkait dengan keduanya mulai semarak diperbincangkan.

Antusiasme umat Islam yang begitu besar terhadap kedatangan bulan suci Ramadhan dan hari raya Iedul Fitri sangat beralasan. Betapa tidak, bulan ini memiliki beribu-ribu keistimewaan dan mendatangkan berjuta-juta keberkahan.

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجِنَانِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَنَادَى مُنَادٍ : يَابَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَابَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَاللَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُل لَيْلة

“Bila malam pertama bulan Ramadhan telah tiba, maka seluruh setan dan jin gentayangan di belenggu. Seluruh pintu neraka ditutup, tidak satu pintupun yang masih terbuka. Sebaliknya, seluruh pintu surga dibuka, dan tidak satu pintupun yang tertutup. Lebih dari itu, ada penyeru yang berkata. ‘Wahai para pencari kebaikan bergegaslah dan wahai pencari kejelekan berhentilah!. Dan pada setiap malam Allah memerdekakan sebagian hambanya dari ancaman siksa neraka” [HR, at-Tirmidzi dan lainnya]

Sebagaimana perayaan Iedul Fitri walaupun Anda lakukan setiap tahun, namun tetap saja mampu mendatangkan kebahagian yang tidak pernah dapat ditebus dengan apapun. Karena itu Anda senantiasa menanti-nantikan kesempatan ini, dan rela berkorban dengan apapun demi merasakan keindahannya di tengah-tengah keluarga. Biaya yang mahal, jauhnya perjalanan dan lelahnya menghadapi kemacetan jalan, dalam sekejap semuanya sirna bila Anda berhasil merasakan kehangatan Iedul Fitri di tengah orang-orang yang Anda cintai.

MUDIK LEBARAN, DAN TRADISI YANG KELIRU

MUDIK LEBARAN, DAN TRADISI YANG KELIRU
Wahai, manusia. Hiasilah hubungan dengan kerabatmu untuk mencari ridha Allah. Dengan bersilaturahmi, keberkahan umur dan rizki akan diraih dan derajat mulia akan tercapai di sisi Allah. Ketauhilah, silaturahmi dengan sanak kerabat dan famili merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah.

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah melakukan silaturrahmi".[1]

Silaturrahmi yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik terhadap orang-orang yang telah berbuat baik terhadap kita. Namun, silaturrahmi yang sebenarnya ialah menyambung hubungan dengan orang-orang yang telah memutuskan tali silaturahmi dengan kita.

Dari Abdullah bin Amr dari Nabi bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلَ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

"Sesungguhnya bukanlah orang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang membalas kebaikan, namun orang yang menyambung silaturahmi adalah orang yang menyambung hubungan dengan orang yang telah memutuskan silaturahmi". [2]

TRADISI MUDIK LEBARAN DALAM TINJUAN ISLAM
Sebagian besar kaum Muslimin di negeri kita mengira, bahwa mudik lebaran ada kaitannya dengan ajaran Islam, karena terkait dengan ibadah bulan Ramadhan. Sehingga banyak yang lebih antusias menyambut mudik lebaran daripada mengejar pahala puasa dan lailatul qadr. Dengan berbagai macam persiapan, baik tenaga, finansial, kendaraan, pakaian dan oleh-oleh perkotaan. Ditambah lagi dengan gengsi bercampur pamer, mewarnai gaya mudik. Kadang dengan terpaksa harus menguras kocek secara berlebihan, bahkan sampai harus berhutang. Pada hari lebaran, lembaga pegadaian menjadi sebuah tempat yang paling ramai dipadati pengunjung yang ingin berhutang.

Padahal yang benar mudik tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam karena tidak ada satu perintahpun baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah, setelah menjalankan ibadah Ramadhan harus melakukan acara silaturahmi untuk kangen-kangenan dan maaf-maafan, karena silaturahmi bisa dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan dan kondisi.

Apabila yang dimaksud mudik lebaran sebagai bentuk kegiatan untuk memanfaatkan momentum dan kesempatan untuk menjernihkan suasana keruh dan hubungan yang retak sementara tidak ada kesempatan yang baik kecuali hanya waktu lebaran maka demikian itu boleh-boleh saja namun bila sudah menjadi suatu yang lazim dan dipaksakan serta diyakini sebagai bentuk kebiasaan yang memiliki kaitan dengan ajaran Islam atau disebut dengan istilah tradisi Islami maka demikian itu bisa menjadi bidah dan menciptakan tradisi yang batil dalam ajaran Islam. Sebab seluruh macam tradisi dan kebiasaan yang tidak bersandar pada petunjuk syareat merupakan perkara bidah dan tertolak sebagaimana sabda Nabi:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, patuh dan taat walaupun dipimpin budak habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (bid’ah) karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat". [Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah].

SILATURAHMI YANG SESUAI DENGAN SUNNAH
Makna silaturahmi secara bahasa adalah dari lafadz rahmah yang berarti lembut dan kasih sayang.

Abu Ishak berkata: "Dikatakan paling dekat rahimnya adalah orang yang paling dekat kasih sayangnya dan paling dekat hubungan kekerabatannya". [3

Imam Al Allamah Ar Raghib Al Asfahani berkata bahwa Ar Rahim berasal dari rahmah yang berarti lembut yang memberi konsekwensi berbuat baik kepada orang yang disayangi.[4]

Oleh sebab itu salaturrahmi merupakan bentuk hubungan dekat antara bapak dan anaknya atau seseorang dengan kerabatnya dengan kasih saying yang dekat, sebagaimana firman Allah: "Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim". [an Nisa’:1]

Silaturahmi dan berbuat baik kepada orang tua dan sanak kerabat merupakan urusan yang sangat penting, kewajiban yang sangat agung, dan amal salih yang memiliki kedudukan mulia dalam agama Islam serta merupakan aktifitas ibadah yang sangat mulia dan berpahala besar sehingga banyak sekali nash baik dari Al-Qur’an dan Sunnah yang memberi motivasi untuk silaturahmi dan mengancam bagi siapa saja yang memutuskannya dengan ancaman berat.

Allah berfirman : "(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi". [al Baqarah : 27]

Ayat di atas terdapat anjuran agar setiap muslim melakukan silaturrahmi dengan kerabat dan sanak famili.

Abu Ja’far Ibnu Jarir At Thabary berkata: "Pada ayat di atas Allah menganjurkan agar menyambung hubungan dengan sanak kerabat dan orang yang mempunyai hubungan rahim dan tidak memutuskannya".[5]

Oleh sebab itu, hendaknya setiap muslim hendaknya melakukan silaturrahmi dengan sanak kerabat baik dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan baik sekandung maupun hanya saudara sebapak atau seibu, atau sepersusuan, semuanya hendaklah saling menyayangi, menghormati dan menyambung hubungan hubungan kerabat baik pada saat berdekatan maupun berjauhan.

Dari Aisyah bahwa Nabi bersabda:

الرَّحِمُ شَجْنَةٌ مِنَ اللهِ مَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللهُ

"Rahim adalah syajnah (bagian dari limpahan rahmat) [6] dari Allah, barangsiapa yang menyambungnya maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskannya maka Allah akan memutuskannya". [7]

Hubungan persaudaraan khususnya antara saudara laki-laki dan saudara perempuan memiliki sentuhan yang sangat unik yaitu sentuhan batin yang sangat lembut serta kesetiaan yang sangat dalam dan semakin hari semakin bertambah subur walaupun berjauhan jarak tempatnya.

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتْ الرَّحِمُ قَالَتْ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنْ الْقَطِيعَةِ قَالَ نَعَمْ أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ قَالَتْ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَذَاكِ لَكِ

"Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk dan setelah usai darinya maka rahim berdiri lalu berkata: Ini adalah tempat orang berlindung dari pemutusan silaturramhi. Maka Allah berfirman: Ya. Bukankah kamu merasa senang Aku akan menyambung hubungan dengan orang yang menyambungmu dan memutuskan hubungan dengan orang memutuskan denganmu? Ia menjawab: Ya. Allah berfirman: Demikian itu menjadi hakmu".[8]

Barangsiapa yang memutuskan hubungan silaturrahmi tanpa alasan syar’i maka berhak mendapatkan sanksi berat dan kutukan dari Allah serta diancam tidak masuk surga.

Allah berfirman: "Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi. Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)". [ar-Ra’d : 25].

Dari Jubair bin Muth’im bahwa Nabi Muhammad bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

"Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kerabat.".[9]

KESALAHAN-KESALAHAN PADA SAAT LEBARAN
Hari raya adalah salah satu syiar kemuliaan kaum muslimin. Pada hari itu mereka berkumpul jiwa-jiwa menjadi bersih dan persatuan terbentuk serta pengaruh kejelekan dan kesengsaraan hilang, sehingga tidak tampak pada waktu itu kecuali kebahagiaan. Namun hal ini sering terjadi kekeliruan-kekeliruan dalam merayakannya. Diantaranya.

1. Meniru orang kafir dalam berpakaian. Kita mulai melihat sebagai fenomena aneh pada masyarakat kita khususnya pada hari raya. Mereka mengenakan pakaian yang aneh-aneh ala orang kafir. Seorang muslim dan muslimah seharusnya memiliki semangat untuk menjaga agama, kehormatan dan fitrahnya. Jangan tergoda untuk ikut-ikutan mereka meniru-niru kebiasaan orang-orang yang tidak menjaga kehormatan.

2. Sebagian orang menjadikan hari raya sebagai syiar melaksanakan kemaksiatan, sehingga secara terang-terangan ia melakukan perbuatan yang diharamkan. Misalnya dengan mendengarkan musik dan memakan makanan yang diharamkan Allah.

3. Dalam berziarah (kunjungan) tidak memperhatikan etika islami. Contohnya bercampurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, saling berjabat tangan antara laki-laki yang bukan mahram

4. Berlebih-lebihan dalam membuat makanan dan minuman yang tidak berfaedah, sehingga banyak yang terbuang, padahal kaum muslimin yang membutuhkan.

5. Hari Raya merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menyatukan hati kaum muslimin, baik yang ada hubungan kerabat atau tidak. Juga kesempatan untuk mensucikan jiwa dan menyatukan hati, namun pada kenyataannya, penyakit hati masih tetap saja bercokol.

6. Menganggap bahwa silaturahmi hanya dikerjakan pada saat hari raya saja.

7. Menganggap bahwa pada hari raya sebagai saat yang tepat untuk ziarah kubur.

8. Saling berkunjung untuk saling maaf-memaafkan diantara para kerabat dan sanak famili dengan keyakinan saat itulah yang paling afdhal.[10]

SILATURAHMI YANG PALING UTAMA ADALAH BIRRUL WALIDAIN
Allah mewajibkan seorang anak untuk taat, berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuannya. Bahkan Allah menghubungkan perintah beribadah kepadaNya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana firman Allah:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَتَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا {23}

"Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". [al Isra` : 23]

Birrul walidain adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, baik berupa bantuan materi, doa, kunjungan, perhatian, kasih sayang, dan menjaga nama baik pada saat hidup atau setelah wafat. Orang tua merupakan kerabat terdekat, yang banyak mempunyai jasa dan kasih sayang yang besar sepanjang masa, sehingga tidak aneh kalau hak-haknya juga besar. Allah berfirman :

وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu". [Luqman : 14 ].

KEUTAMAAN BIRUL WALIDAIN
Di dalam Al Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam banyak disebutkan secara berulang-ulang, agar seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Kebaikan dan pengorbanan orang tua tidak terhitung jumlahnya, baik berupa jiwa raga dan kekuatan, tidak berkeluh kesah dan tidak meminta balasan dari anaknya.

Adapun anak, ia harus selalu diberi wasiat dan diingatkan agar senantiasa mengingat terhadap jasa orang tua, yang selama ini telah mencurahkan jiwa dan raga serta seluruh hidupnya untuk membesarkan dan mendidiknya.

Seorang ibu, selama mengandung mengalami banyak beban berat. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Ibu lebih banyak menderita dalam membesarkan dan mengasuh anaknya. Penderitaan ketika hamil, tidak ada yang bisa merasakan payahnya, kecuali kaum ibu juga.

Imam Bukhari di dalam Adabul Mufrad, dari Abu Burdah, bahwa ia menyaksikan Ibnu Umar dan ada seorang laki-laki dari Yaman sedang melakukan thawaf -sambil menggendong ibunya di belakang punggungnya-, ia berkata: ‘Sesungguhnya saya menjadi tunggangannya yang tunduk, jikalau tunggangan lain terkadang susah dikendalikan, aku tidaklah demikian’. Lalu ia bertanya kepada Ibnu ‘Umar: 'Wahai Ibnu Umar, apakah dengan ini saya sudah membayar jasanya?. Beliau menjawab:"Sama sekali belum, walaupun satu kali sengalan nafasnya (saat melahirkanmu)" [11]

Dari Al Miqdam bin Ma’dikarib, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ثم يُوْصِيْكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ثم يُوْصِيْكُمْ بِآبَائِكُمْ ثُمَّ يُوْصِيْكُمْ بِاْلأَقْرَبِ فَالْأَقْرَبِ

"Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, lalu Allah berwasiat agar berbuat baik kepada ibu-ibumu, kemudian Allah berwasiat kepada bapak-bapakmu, dan kemudian Allah berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu".[12]

Begitulah, anak adalah bagian hidup dan belahan hati orang tua. Kasih sayangnya mengalir di dalam darah daging keduanya. Seorang anak selalu merepotkan dan menyita perhatian kedua orang tuanya. Tatkala kedua orang tua tetap berbahagia dengan keadaan putra-putrinya, akan tetapi betapa cepatnya seorang anak melalaikan semua jasa orang tuanya, dan hanya sibuk mengurus isteri dan ana-anaknya. Padahal berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan keputusan mutlak dari Allah, dan merupakan ibadah yang menempati urutan ke dua setelah ibadah kepada Allah.

Mari kita segera mulai dengan berbuat baik, menghormati dan memuliakan mereka berdua. Karena birrul walidain memiliki keutamaan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07-08/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]
________
Footnote
[1]. Lihat sahih Abu Daud (1486), sahih Adabul Mufrad (56) Sahih Muslim bab Al Birru Wassilah hadits ke 20.
[2]. Lihat SahihAdabul Mufrad (68) bab laisal wasil bil mukafi’
[3]. Lihat Lisanul Arab (5/174) bab Dzal wa Ra’.
[4]. Lihat Mufradatul Qur;an Hal (346)
[5]. Lihat Tafsir Ath Thabary juz 1/144. dan tafsir Ibnu Katsir Juz 1/ 83
[6]. Lihat Syarah Adabul Mufrad karya Husain Ibnu Uwadah Al Awayasyah. Juz 1/72.
[7]. Lihat Silsilah hadits sahihah no (925) , Adabul Mufrad no (55) dan sahih Musdlim bab Al Birru wa Silah hadits ke 17.
[8]. HR Imam Bukhari dalam sahihnya dalam kitabut tafsir (4830) dan Imam Muslim dalam kitabul Birri (6465).
[9]. HR Imam Bukhari dalam sahihnya dalam kitabul Adad bab Istmul Qathi’ (5984), Muslim dalam sahihnya kitabul birry bab Silaturrahim (6467) dan Abu Daud Dalam sunannya (1696).
[10]. Lihat Ahkamul Idain wa Asyr Dzulhijjah karya DR. Abdullah bin Muhammad Ath Thayyar
[11]. Adabul Mufrad, hadits no. 11, Bab Jazaul Walidain. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani.
[12]. Shahih Adabul Mufrad, 60; Sunan Ibnu Majah, 23, Kitabul Adab dan Shilisilah Hadits Shahihah, 1666.

Oleh
Ustadz Abu Ahmad Zaenal Abidin

http://www.almanhaj.or.id/content/2830/slash/0

Copyright @ 2013 Belajar, Beramal, dan Menyampaikan tentang Islam.